[FF] THE WAY TO YOU [2/?]

THE WAY TO YOU [2/?]

Author: Goldenfishy [Lousey Han] | Main Cast: Lee Soon Ja, Park Chanyeol | Support Cast: Amber Liu, Kris Wu | Genre: Comedy, Romance, Teenager, School life, Absurd | Rating: PG-13 | Disclaimer: This fiction inspire from another fiction with title ‘GUA EMPET SETENGAH KAYANG SAMA ELU’. Now this plot is mine, it’s 100% hot from my brain. Lee Soon Ja is not mine, but she live in my mind. Park Chanyeol belongs God, his parent, his noona, SM Ent, EXO, EXO L, and Pyromaniac.

WARNING!!! Siders, please go away!!

~oOo~

 

Ini ulang tahun Lay, tapi entah kenapa aku justru memberi kado untukmu, Yeol..

 

~oOo~

♫ Intro: River Flows in You – Yiruma♫

♫BGM: Tell me why – Toheart (Woohyun & Key)♫

Soon Ja POV,

Pagi ini aku bangun dengan malas, udara begitu dingin membuatku tubuhku menggigil. Kutenggelamkan diriku semakin dalam ke dalam selimut tebal tapi tetap saja aku masih kedinginan.

Aku sangat lelah, semalam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Alasan pertama karena Amber mendengkur terlalu keras, alasan kedua karena aku masih memikirkan Park Chanyeol, dan alasan ketiga sekaligus yang terakhir adalah hal yang paling mengganjal dalam benakku, karena itu aku merasa ada sesuatu yang kurang. Aku rasa aku sudah melupakan sesuatu tadi malam. Tapi apa? Semoga tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi.

Mataku rasanya lengket sekali dan tak mau terbuka. Tapi Amber malah membangunkanku dengan menguncang-guncangkan badanku.

“ Lee Soon Ja, cepat bangun! Akan kupastikan kau menyesal kalau melewatkan pagi yang indah ini? Ada pemandangan bagus di bawah sana.”

“ Uuhhmmm, iya Amber. Aku bangun, tapi 5 menit lagi, please?”

“ Tidak boleh!” ditarik-tariknya lengan piyamaku.

“ Baiklaaahhh… whoooammmm,…”

Amber sudah membuka jendela lebar-lebar. Nampak bersemangat sekali. Aku mulai membuka mata dan mengeliat melemaskan otot-ototku. Dan apa kau tahu apa yang aku rasakan? Bbbrrrrrrrrrrr, dingin menusuk kulit. Gila, ini sangat dingin.

“ Cepat kemari,” Amber mengibas-ngibaskan tangannya memanggilku. Aku berjalan limbung ke arahnya.

“ Apa, hum?”

 

“ Lihat itu, latihan pagi siswa asrama pria sudah dimulai.”

“ Lalu?”

“ Lalu Park Chanyeol akan muncul dengan celana training abu-abu dan jaket hitam, jangan lupa kalau ia akan mengenakan topi kesayangannya. Kau tidak berminat melihatnya? Kalau aku memang tidak. Aku memilih untuk melihat Kris dengan kaus bergambar naganya, bagaimana?”

Aku mengikuti cara Amber saja, lagi pula dengan begini kan aku dapat melihat Chanyeol. Dia benar, Chanyeol selalu mengenakan pakaian itu untuk latihan pagi. Dan aku berhenti berkedip saat sosok tinggi itu muncul dan langsung berlari-lari kecil mengelilingi lapangan.

Oh, tidak! Dia berpuluh-puluh kali lebih keren dari sebelumnya. Tunggu sampai aku melihat dahinya yang berkeringat. Aku pasti akan pingsan. Someone call the doctor! Vitamin C yang Chanyeol hasilkan membuatku overdose.

“ Amber,” panggilku pada temanku satu ini.

“ Hm,” ia memberikan respon sedikit.

“ Ayo turun, aku lapar,” ajakku.

Hanya alasan, sebenarnya aku tahu kalau latihan itu segera berakhir dan biasanya siswa laki-laki akan berhamburan ke kafetaria setelahnya. Sekali lagi aku ingin melihat Chanyeol.

“ Kau sendiri saja, aku masih sibuk,” matanya tak lepas dari Kris dan aku mulai kesal.

“ Aku yang traktir.”

Seketika dia menoleh dan tersenyum. Bilang saja dia minta disogok agar mau menemaniku.

Kami segera mandi dan berangkat ke kafetaria yang sudah buka sebelum jam sekolah dimulai. Sekolah ini memang baru memulai pelajarannya pada pukul 8 dan baru berakhir pukul 4 sore. Selain jam itu kami dibebaskan untuk beraktifitas di asrama. Hal ini yang membuatku senang. Peraturan di sini lebih fleksibel dan tidak terlalu menuntut dibanding sekolah lain.

Tibalah kami di kafetaria, aku langsung menuju ke spot favoritku. Sarapan pagi memang baru sempurna jika dengan waffle isi coklat lezat dan segelas coklat hangat. Oh ya, aku memang cokelat mania.

Amber buru-buru pergi ke spot kesukaannya sendiri untuk mengambil menu McMorning. Ia juga tidak pernah lupa mengambil makanan tambahan yang tak pernah absen dari menu kami, yaitu salad dan buah. Yap, kami juga suka sekali makanan sehat.

Saat aku baru mengambil waffle-ku, ada sesuatu yang menarik perhatianku. Aku mendapati sebuah jam weker yang bagus sekali terpajang di etalase accessories di seberang kafetaria. Aku melihatnya dan jam itu berubah menjadi wajah seseorang. Seseorang mengambil jam itu dari dalam. Membuat kaca itu memperlihatkan wajah orang yang mengambilnya menggantikan bentuk bundar jam weker biru itu.

‘Park Chanyeol membeli jam weker?’

Tiba-tiba mata kami bertemu dalam jarak yang berjauhan. Dia menatapku dari dalam sana, wow. Aku segera berpaling dan buru-buru membawa waffle-ku kembali ke meja. Masih saja mataku mengekori seorang Park Chanyeol saat melihat ia keluar toko itu dengan tangan kosong. Dia tidak jadi membelinya? Benar saja, jam weker itu kembali ke tahtanya semula yaitu di etalase kaca.

Setelah kenyang, Amber kembali dulu ke atas. Aku bertahan di tempat dudukku, masih menunggu Chanyeol datang untuk makan. Biasanya setelah ia muncul, aku langsung pergi. Aku cukup puas untuk bisa melihatnya walau itu hanya sekilas.

Lama aku menunggu, tidak ada tanda-tanda Chanyeol akan datang untuk makan. Aku sudah melihat beberapa teman yang sering makan dengannya datang duluan dan malah sudah pergi lagi sekarang. Aku lantas berdiri dan mencoba mendatangi toko itu dari dekat.

Tanpa kuperintah kakiku sudah melangkah masuk ke dalam toko.

“ Selamat pagi,” sapa wanita paruh baya penjaga toko itu.

Aku belum pernah masuk ke sini sebelumnya. Karena aku sendiri kurang menyukai benda-benda tersier yang dijual di sini. Dari pada aku sibuk membelanjakan accessories lebih baik aku menabungnya, bukan?

“ Apa kau mencari barang-barang untuk kado?”

“ Uhm, aku rasa tidak. Aku hanya ingin melihat jam weker.”

Kebetulan jam weker di kamar kami baru saja dihancurkan Amber tadi malam.

“ Silahkan memilih. Untuk informasi saja, alat-alat musik ada persis di sebelah toko ini, namun kau bisa membayarnya di kasir ini.”

Aku mengangguk. Sebenarnya aku bingung untuk membeli apa. Aku meminta bibi itu mengambilkan jam weker yang terpajang itu. Bersamaan saat aku menunjuk jam weker itu, ada seseorang yang tak aku harapkan masuk ke dalam toko.

“ Cogyo, aku kembali untuk membeli ‘itu’,” katanya dan “itu,” kataku.

Kami menunjuk jam yang sama dan mengatakannya bersamaan.

“ Bibi, aku memilihnya duluan,” katanya bermaksud protes.

“ Tapi nona ini sudah..”

“ Aku yang terlebih dulu melihatnya.”

“ Tuan..” Bibi itu nampak memihakku.

“ Begini saja, biar dia yang membelinya. Aku bisa memilih yang lain,” ujarku.

Aku segera menjauhkan diri, aku selalu merasa oksigen di dunia ini habis saat aku berada dalam jarak yang berdekatan dengannya.

Aku masuk ke bagian sebelah dari toko ini yang menjual alat musik, aku tak tahu apa yang kulakukan sampai bisa ke sini. Yang penting dia mendapatkan yang dia mau. Hanya lima menit, Soon Ja. Lima menit dari sekarang dia sudah pergi, bukan?

Aku kembali berjalan ke kasir. Pintu itu masih bergoyang sejak Chanyeol keluar dari sini. Tanpa terasa aku membawa dua stik drum di tanganku.

“ 15.000 won.”

“ Ne?” kagetku.

Aku menyerahkan uangku.

Lihat betapa bodohnya aku karena aku hanya melihatmu, Chanyeol.

Soon Ja POV END.

oOo

Suatu siang yang tenang, akhirnya diwarnai dengan keributan para siswi dengan hal-hal yang tidak penting, gossip misalnya. Tapi ternyata keributan ini bukan hanya karena gossip semata, ini  adalah hari yang penting bagi Lay si pemilik hajat besar nanti sore. Hari ini adalah ulang tahunnya. Semua siswa diundang tanpa kecuali. Termasuk Soon Ja. Akhirnya ada kesempatan langka seperti ini untuk Soon Ja bisa mendekati Chanyeol secara diam-diam.

“ Kau teman Amber?”

Lay bergabung dengan Soon Ja yang duduk seorang diri di meja paling tepi di areal kafetaria ini.

“ I..ya,” jawabnya ragu.

“ Aku hanya ingin tahu siapa namamu. Maaf sebelumnya karena aku belum tahu namamu.”

Pria yang konon katanya berasal dari Changsa itu tersenyum, memamerkan lesung pipitnya.

“ Soon Ja, Lee Soon Ja imnida.”

“ Aku Yixing, yang lain biasa memanggilku Lay. Tapi aku tidak keberatan jika kau memanggil Yixing.”

“ Ah tidak, aku harus memanggilmu seperti yang lain memanggilmu. Memanggilmu dengan nama lain akan membuat kesalah pahaman nanti.”

“ Baiklah, Lee Soon Ja ssi.”

“ Lee.. Soon..Ja,” tulisnya pada undangan sederhana berwarna putih gading itu.

Hell! Benarkah ia tidak mengenal Soon Ja. Tamatlah kau Soon Ja, Yixing yang dikenal suka bergaul dengan siswa non-populer saja tidak mengenalmu. Masih bisakah kau menyebut dirimu siswa di sekolah ini? Kau benar-benar angin lalu yang tidak pernah dianggap.

Lay lalu  menyerahkan undangan yang baru ditulisnya itu padanya. Lay dengan tatapan penuh harap. Seakan tatapan itu bermakna aku-unicorn-yang-manis-dan-baik-hati-ingin-mengundangmu-ke-ulang-tahunku-dengan-harapan-kau-SoonJa-si-siswi-yang-tak-pernah-dianggap-siswa-sekolah-ini-mau-datang-ke-pestaku-karena-di-sana-pangeran-Chanyeol-menunggumu. Maaf jika ini terlalu panjang.

“ Aku harap kau datang ke pestaku nanti. Mungkin pestanya tidak meriah tapi aku akan menyediakan sesuatu yang enak dimakan untukmu.”

Soon Ja menatap pria itu ragu. Bukannya ia menolak, hanya saja hal ini terlalu tidak biasa atau bisa dikatakan luar biasa untuk ukurannya. Sebuah undangan pesta yang mewah dan ia tidak siap.

Ia menundukkan pandangannya ke arah undangan tadi.

‘Ini tiket emas untuk mendekati Chanyeol, Soon Ja ya,’ batinnya meyakinkan diri.

“ Terima kasih. Aku..”

Lalu dalam sekejab saja pria yang ada di hadapannya itu hilang entah kemana. Dia bukan jin, kan? Lalu kemana dia pergi? Kini tinggal Soon Ja sendiri bersama keheningan.

‘ Itu tadi bukan mimpi, kan?’

Ia menatap kembali kertas undangan yang ada digenggamannya.

‘ Bukan, ini jelas bukan mimpi.’

oOo

“ Kau mau pakai apa, Amber?”

Acara fitting baju kali ini tidak berjalan lancar. Sebelumnya semua berjalan baik-baik saja karena Soon Ja masih memiliki baju yang belum pernah ia pakai untuk acara-acara di sekolah. Tapi itu kemarin, dan sepertinya tahun ini tahun puncak kemalangan melandanya. Sejak awal tahun ia memutuskan untuk tidak bekerja paruh waktu. Ia ingin memfokuskan dirinya untuk belajar. Tidak bekerja sama artinya dengan tidak ada uang tambahan, tidak ada uang tambahan sama artinya dengan tidak punya baju baru, tidak punya baju baru sama dengan tidak menghadiri pesta. Tamat.

“ Bagaimana kalau baju ini? Aku suka warna krem.”

“ Tidak buruk, tapi kau yakin mau memakai baju ini? Ini pakaian laki-laki.”

Soon Ja duduk di tempat tidurnya dan hanya menonton Amber memadu-madankan koleksi pakaiannya.

“ So what? It’s my style!” tegasnya.

“ Kau yakin mau pakai itu?”

“ Memangnya aku dirimu, harus memakai rok?”

“ Hash, aku frustasi. Aku bahkan tidak memiliki baju yang layak untuk kugunakan ke pesta.” Soon Ja mengacak-acak rambutnya abstrak.

“ Kau berlebihan. Aku yakin kau punya sesuatu yang bagus. Sebentar..” Ia berlari ke lemari Soon Ja.

Amber mulai mengacak-acak lemari pakaian Soon Ja.

“ Amber, hentikan. Kau membuat berantakan.”

“ Sebentar, setidaknya kau punya dress. Ah, iya yang ini.”

Amber mengeluarkan dress hijau yang sudah lama tergantung di lemari Soon Ja tanpa pernah disentuh olehnya.

“ Aku sudah pernah memakainya. Saat prom tahun lalu, saat ulang tahunmu, juga saat perpisahan tahun lalu. Kau yakin orang tidak akan bosan melihatnya? Ini hanya satu-satunya dress yang aku punya.”

“ Aku tidak punya pilihan lain. Sepertinya aku memang harus menyulapmu menjadi putri untuk nanti malam.”

“ Apa maksudmu? Kau gila?”

“ Yes, I am. Sekarang ikut aku.”

Seolah menjadi kebiasaan, Soon Ja selalu pasrah saat Amber memaksakan kehendaknya. Amber membawanya ke sebuah butik kecil di pinggiran Apujeong.

“ Amber, aku tidak punya uang untuk membeli pakaian baru,” keluh Soon Ja.

Amber pura-pura tuli. Diajaknya Soon Ja untuk terus memasuki toko kecil yang sepi yang penuh sesak dengan pakaian-pakaian eksentrik. Akhirnya mereka sampailah pada tempat terdalam dari toko ini. Di sana terdapat pintu kayu tua yang pernisnya masih terlihat mulus. Tak ada sedikitpun debu yang berani menempel. Seseorang pemilik butik ini pasti penggila kebersihan.

“ Sepada..” “ Hallo?”

“ Uncle? Where are you?”

“ Kau ingin aku mengacau di tokomu? Tolong cepat keluar jika kau tidak menginginkan hal itu.” teriak Amber mulai kesal karena orang yang dipanggilnya tak lekas muncul.

Soon Ja nyaris meloncat karena terkejut. Seorang pria berkepala botak tiba-tiba muncul dari atasnya. Ia langsung mendarat di hadapan Amber. Soon Ja menyandarkan dirinya pada tangga dimana asal pria tadi turun. Kakinya mendadak lemas karena terkejut.

“ Honey, kau tidak lihat aku sedang sibuk?” kata paman itu dengan nada yah.. kau tahu, designer laki-laki memang sedikit..

“ Ouh, maaf. Kau membawa teman ternyata. Siapa nama teman cantikmu ini, Amber?” dia baru menyadari jika Amber tak sendirian.

“ Lee Soon Ja,” jawab Amber agak malas.

“ Sonya? Nama yang cantik.”

“ Maaf, tapi Amber bilang Soon Ja. S-O-O-N J-A,” koreksi Soon Ja.

“ Tak apa, itu nama yang bagus, Sonya,” kata paman itu lagi.

Soon Ja menghela nafas pasrah. Soon Ja jadi tidak mengerti. Apa memang semua anggota keluarga Amber merupakan orang aneh.

Amber sedang memilih beberapa baju. Si paman itu kembali pada aktifitasnya, menggunakan tangga untuk mengaitkan dekorasi terakhirnya pada tiang di sisi kanan toko.

“ Aku butuh sesuatu yang cantik untuk mendandani Cinderella yang cantik ini, paman ada ide?” tanya Amber lagi-lagi sambil sibuk memilih baju. Tapi ternyata ia memilih baju laki-laki, tentu untuk dirinya sendiri.

Soon Ja yang masih berdiri di tempat ingin segera melangkah untuk menghentikan Amber. Ini sudah tidak benar, ia tidak ingin Amber melakukan apapun lagi untuknya. Ia tidak punya uang untuk membeli baju baru. Ia juga tidak ingin berhutang pada Amber.

“ Kau suka dekorasinya?” tanya paman itu menghampiri Soon Ja.

“ Untuk hari biasa lumayan juga,” cibir Amber dari kejauhan. Terlihat paman itu memutar matanya kesal karena ulah Amber.

“ Cantik sekali, paman,” sela Soon Ja di tengah kekesalan paman itu.

Paman itu tersenyum, “ sudah kuduga kau orang yang baik. Tidak seperti monster itu,” balasnya mencibir Amber.

“ I can hear youuuu..”

“ Lalu? Kau mau mengadukanku pada ibumu?” runtuk sang paman.

“ Iya, kalau paman mau. Tapi aku sedang berbaik hati aku tidak akan melakukannya. Ngomong-ngomong, semuanya jelek. Tak ada yang bisa aku pilih untuk Soon Ja.”

“ Aku sudah tidak muda lagi, Amber.”

Untuk pertama kalinya Amber merasa bersalah atas ucapannya. Mungkin semua pakaian ini tidak pernah dihargai sebanding dengan kerja keras pamannya selama ini. Terbukti selama pamannya berkarya, tak sekalipun namanya tersohor.

Paman tersenyum kecil. Pandangannya masih tertuju pada Soon Ja.

“ Amber itu keponakanku, teman Amber juga temanku, Soon Ja ssi. Apa yang kau butuhkan?”

“ Begini, nanti sore ada acara ulang tahun salah seorang temanku jadi..” kata Soon Ja terpotong.

“ Laki-laki? Perempuan?” tanyanya.

“ Laki-laki,” sahut Amber.

“ Orang yang kau sukai?”

“ Lebih tepatnya, orang yang ia sukai juga akan hadir di sana,” sahut Amber lagi. Kali ini sambil mengaitkan lengannya ke bahu Soon Ja.

“ Serahkan pada paman Teddy, aku akan membuatmu jadi ratu di pesta,” kata paman Teddy bersemangat.

“ That’s my uncle,” ucap Amber bangga.

“ Tapi kurasa sudah dua jam lagi sebelum pesta,” kata Soon Ja ragu.

“ Kalau begitu kita harus cepat menyelesaikan pakaiannya. Apa warna kesukaanmu, my dear Sonya?”

‘Soon Ja! Namaku Soon Ja bukan Sonya. Ya ampun, berapa kali aku harus mengatakannya? Menyelesaikannya? Jadi pakaian itu masih sebatas sketsa dan kain utuh sekarang?’

oOo

Pesta ini sedikit kurang meriah karena hujan deras mengguyur bumi. Konsep garden party yang direncanakan terpaksa berubah menjadi pesta dansa di aula. Meskipun begitu masih banyak yang menghadiri ulang tahun Lay ke-18.

Seorang putri baru saja digandeng sang pengawal memasuki aula. Sepertinya pengawal itu nampak tak asing lagi. Ia mengenakan vedora coklat di kepalanya. Ah, itu Amber! Jadi orang yang digandengnya itu adalah Soon Ja. Penampilannya jauh berbeda. Ia tampak cantik dan anggun. Berterima kasihlah pada paman Teddy.

Mereka berdua langsung datang menuju sang pemilik pesta, Lay.

“ Happy Birthday!” teriak Amber saat jarak mereka masih agak jauh. Soon Ja menepuk pelan lengan Amber.

Lay terlihat tampan hari ini. Rambutnya disisir rapi dan apa dia mengenakan cologne? Baunya menyengat sekali. Apa ia menumpahkannya ke pakaiannya?

“ Selamat ulang tahun, Lay,” ucap Soon Ja sambil menjabat tangan Lay. Lay menyambutnya antusias. Begitu pula saat Amber menjabat tangannya.

“ Maaf, tapi aku tidak membawa hadiah apapun untukmu,” kata Soon Ja jujur.

“ Tidak masalah, tapi kurasa aku mau meminta yang lain darimu,” goda Lay sedikit, tapi ia tidak bermaksud. Terlihat dari mata polosnya, ia tidak berniat jahat.

“ Hm? Apa itu?”

“ Maukah kau menari denganku? Ini lagu kesukaanku,” ajaknya antusias. Unicorn ini terlihat sangat menggemaskan sekarang.

“ Jika Amber mengijinkan.”

Lay menaikkan alisnya untuk meminta persetujuan Amber.

“ Terserah kalian, aku mau cari minuman.”

Lay mengajak Soon Ja turun ke lantai dansa. Soon Ja sudah mengatakan pada Lay bahwa sejujurnya ia tidak ahli dalam hal ini. Ia jarang mengikuti pesta. Dan Lay memakluminya. Ia sudah cukup senang Soon Ja tidak menolak undangannya. Mereka berdua mengayunkan kakinya mengikuti tempo. Mereka berputar satu dua kali. Lalu tertawa bersama saat Soon Ja hampir menabrak pasangan lain. Cukup pelajaran yang Soon Ja dapat, ia tidak akan mencoba menari lagi.

Soon Ja menepi. Lantai dansa terlalu berbahaya untuknya. Di sisi lain hatinya lega. Akhirnya ia dapat berbaur dengan mudah. Ia tak lagi diabaikan atau dipandang aneh. Setidaknya untuk malam ini.

Paman Teddy telah membuat keajaiban kecil untuknya lewat pakaian ini. Sederhana, elegan, dan tidak terlalu panjang. Jadi ia bisa mengenakannya tanpa takut menginjak gaunnya sendiri. Apalagi itu warna kesukaannya, warna hitam dan putih.

Soon Ja berusaha mencari Amber namun ia tidak menemukannya. Soon Ja kemudian pergi mencari tempat duduk yang kosong. Tak banyak tempat yang tersisa. Jadi ia duduk saja di kursi yang terdekat dari tempatnya berada. Matanya mengedari ke seluruh penjuru aula.

Tak sengaja matanya menangkap sosok Chanyeol yang membenarkan letak dasi kupu-kupu bermotif leopard miliknya. Ia mengenakan setelan tuxedo hitam, kemeja putih, dan disempurnakan oleh pantofel hitam yang disemir licin.

Soon Ja buru-buru menutup wajahnya saat Chanyeol melihatnya. Entah kenapa ia ingin menghindari Chanyeol. Bukankah ia berdandan seperti ini hanya untuk terlihat cantik demi Chanyeol. Tapi melihat pesona Chanyeol malam ini membuatnya lemas. Tak perlu dijelaskan lagi. Soon Ja bahkan sudah tidak kuat menopang tubuhnya sendiri.

Chanyeol menghampiri teman-temannya, lebih tepatnya untuk mengucapkan selamat pada Lay sambil memberikan bungkusan kado untuknya. Soon Ja tahu benar isi kotak itu. Itu pasti jam weker biru yang dibeli Chanyeol pagi tadi.

Saat Chanyeol berpaling, saat itu juga Soon Ja berusaha keluar dari aula. Ok, party is over. Chanyeol hanya bisa melihat sekelebat siluet punggung Soon Ja yang menjauh. Sedetik kemudian Chanyeol mengabaikannya. Hanya orang lewat, pikirnya.

Baru saja Soon Ja sampai di pintu keluar. Seseorang nampaknya juga sedang buru-buru keluar untuk mencegahnya. Siapakah itu? Chanyeol kah?

“ Amber! Kau mengagetkanku?!” serunya.

Oh, ternyata sang pengawal setia, Amber.

“ Kau mau kemana? Pesta yang sebenarnya bahkan belum dimulai.”

Soon Ja kehabisan kata-kata. Ia tak ingin Amber tahu kalau nyalinya terlalu ciut untuk bertemu Chanyeol.

“ Kau sakit?” Amber memeriksa kening Soon Ja.

Belum sampai Amber melakukannya, Soon Ja menepis tangan Amber.

“ Aku rasa aku hanya kelelahan. Aku harus segera kembali ke kamar.”

Soon Ja melepas sepatunya dan berlari dengan telanjang kaki. Amber tidak mengerti ada apa dengan sobatnya itu.

Di kamar, Soon ja menangis tersedu-sedu. Memukul-mukul dadanya sendiri. Rasanya sakit. Entah kenapa begitu sakit, ia juga tidak mengerti. Dari dulu sampai sekarang ia tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Tapi perasaan sakit macam apa ini? Ini sangat menyiksa.

Jika kau memperhatikan Chanyeol di pesta tadi memang sempurna. Sangat sempurna malah. Tapi jika kau melihat lengan siapa yang terkait pada lengannya. Kau akan menyadari jika Chanyeol tidak sendiri. Dia bersama seorang gadis yang sangat cantik.

Soon Ja mengusap air matanya kasar dan membuat pipinya hitam akibat lunturan eyeliner yang dipakainya. Padahal kata paman Teddy eyeliner itu mahal sekali harganya. Namun Soon Ja tak peduli lagi dengan harga eyeliner. Hatinya terlampau sakit meski tadinya ia senang eyeliner itu diberikan secara cuma-cuma padanya.

Soon Ja bangkit untuk mengambil sebuah kotak di laci meja samping tempat tidurnya. Ia bawa kotak itu keluar. Soon Ja keluar masih bertelanjang kaki. Ia menerjang hujan untuk berjalan menuju jalan pintas ke asrama laki-laki tanpa melewati aula utama. Tak peduli jika ia harus demam keesokan harinya hanya untuk menyampaikan hadiah itu saat ini juga.

Sampai di sebuah kamar yang ia tahu dari Amber itu kamar Chanyeol-Kai, ia menjatuhkan kotak itu. Hanya menjatuhkannya. Tanpa perasaan. Air sedikit tertumpah saat kotak itu menyentuh permukaan lantai.

“ Selamat, Park Chanyeol. Semoga kau suka hadiahmu. Maaf sedikit basah,” katanya sarkasme.

Mungkin ia marah, tapi ia tak tahu apa yang ia rasakan sebenarnya. Yang ia tahu hatinya sakit saat Chanyeol bergandengan tangan dengan gadis lain. Lalu ia marah saat mengingat apapun tentang Chanyeol.

Langkah kaki menggema dari ujung koridor, semakin dekat. Dan terlalu dekat untuk Soon Ja sempat melarikan diri. Terlalu riskan untuk nekad berlari. Dengan panik Soon Ja langsung bersembunyi di balik pintu koridor.

“ Aku hanya mengantar adik Minseok. Iya, adiknya juga teman dekat Lay. Aku dengar keluarga Minseok sering bertemu keluarga Lay saat mereka sama-sama di China.”

Chanyeol menempelkan ponsel itu lekat ke telinganya. Ia tak ingin suara hujan yang deras menghalangi suara yang disampaikannya lewat ponsel.

“ Aku tahu, aku juga tidak terlalu suka suasana pesta. Aku sudah di depan kamar.”

Chanyeol tercengang. Ia melihat sebuah kotak panjang yang basah tergeletak di depan pintunya. Ia memunggutnya.

“ Aku tahu..” masih ia berbicara pada ponselnya.

“ Hey, lucunya.. Tapi sepertinya ada orang yang memberikan hadiah padaku.”

“ Kurasa kau benar. Ini ulang tahun Lay tapi entah mengapa aku juga mendapat hadiah. Baiklah aku tutup.”

Chanyeol memasukan ponsel yang sebenarnya tidak menyala (?) itu kembali ke saku jasnya. Kemudian ia mengeluarkan kunci dan mulai membuka pintu kamarnya.

Soon Ja bernafas lega. Ia sedikit merilekskan syarafnya yang sedari tadi menegang.

‘ Adik Minseok? Hanya mengantar? Benarkah?’

Soon Ja hampir terteriak kegirangan. Ia merasa bodoh. Tak seharusnya ia sembarang mencemburui orang tanpa bukti.

Soon Ja menatap lekat pintu kamar Chanyeol sebelum meninggalkannya.

‘ Maafkan aku, Chanyeol, membuat hadiahmu menjadi basah. Aku merasa bodoh sekarang. Ini ulang tahun Lay, tapi entah kenapa aku justru memberi kado untukmu, Yeol.’

Di balik pintu itu, Chanyeol menyandarkan punggungnya. Ternyata ia belum berpindah sedikitpun sejak memasuki kamarnya.

Ia tersenyum.

“ Tentu saja itu adik Minseok, aku tidak ingin kau salah paham. Terima kasih hadiahnya,” ucapnya memandangi kotak itu.

“ Lain kali jika memberiku hadiah jangan yang basah.”

Chanyeol melepas pakaian yang  membuatnya sesak itu, berganti dengan piyama. Ia lalu merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.

‘ Gadis bodoh, kau bisa sakit.’

Flashback, Chanyeol POV,

Duuuut..

“ Hitam SIALAN! Bisa-bisanya kau mengeluarkan gas tanpa permisi seperti itu.”

“ Hehe, mianhe. Sepertinya aku salah makan sore tadi. Jika tidak ingin menghirupnya lebih baik kau keluar saja.”

Cih, kenapa juga aku tinggal sekamar dengan orang seperti dia. Aku keluar ke balkon saja, aku harap gas di dalam kamar sana cepat menghilang.

Lihat, pemandangan malam ini ternyata sangat indah. Angin bertiup sepoi dan langit terlihat cerah. Aku bisa dengan jelas melihat jutaan bintang di langit. Ah, ada dua yang bersinar paling terang. Hey, itu indah.

Saat aku sedang bersantai menikmati pemandangan, aku juga melihat Kris berjalan di bawah diikuti para Mandarin yang lain pulang dari latihan futsal. Aku memang tidak terlalu menyukai futsal karena tinggi badanku membuatku sulit untuk bergerak cepat, maka dari tidak bergabung dengan mereka dan aku lebih memilih bermusik. Sesekali aku juga bertemu Jongdae dan Lay saat berlatih, mereka juga suka bermusik sama sepertiku.

Saat kira-kira mereka sudah memasuki aula dan aku yakin mereka sudah hendak melewati persimpangan. Aku mendengar sedikit keributan dan juga pekikan suara wanita. Apa yang mereka lakukan? Mereka tidak macam-macam bukan? Aku tidak menuduh mereka melakukan sesuatu, aku sangat mengenal baik mereka. Namun laki-laki pada dasarnya memang laki-laki, kau tahu kan apa yang kumaksud?

Aku harus segera ke sana. Aku masuk ke kamar dan bergegas turun ke aula.

“ Kai, kau mau ikut?”

Dia tidak menjawab. Dia berbaring aneh saat aku melihatnya. Nampaknya perutnya benar-benar tidak beres. Sepulang ini aku janji akan membawakan obat untuknya. Kasihan dia.

Aku sudah turun dan yang kudapati adalah tawa para Mandarin. Apa yang mereka tertawakan? Saat kami berpapasan aku tidak melihat ada seorang gadis pun. Lalu apa yang kudengar?

“ Kalian mendengar suara-suara aneh tadi? Seperti suara keributan,” tanyaku pada mereka.

“ Oh itu, teman Amber menabrak Dhuizang dan menimpanya. Kekekeke, kau mau lihat fotonya. Ini manis sekali,” jelas Zitao.

Aku melihat gambar itu sekilas. Cih manis apanya? Jelas sekali wajah gadis itu terlihat terkejut. Ini kecelakaan bukan? Kenapa mereka menganggapnya manis. Tiba-tiba saja aku merasa dongkol.

Mereka pergi.

Teman Amber itu sepertinya tidak asing lagi, tapi aku tidak ingat namanya. Wajah itu sepertinya pernah terbayang di pikiranku sebelum-sebelum ini. Kapan aku melihatnya? Apa aku pernah melihatnya di luar sekolah?

Setelah berkutat lama dengan pikiranku, akhirnya aku ingat namanya.

“Soon Ja?”

Iya, namanya Soon Ja, Lee Soon Ja. Jika tidak salah dia mengikuti klub Techno karena aku melihatnya memakai seragam klub itu. Aku melihatnya sebagai pengantar ayam. Aku rasa dia mengambil kerja paruh waktu saat itu. Tak kusangka mereka adalah orang yang sama. Dua-duanya adalah yang bisa menyita perhatianku. Lebih tepatnya membuatku tersandung tiap kali aku terlalu sibuk memperhatikan kebodohannya.

Tapi kenapa dia keluar malam-malam seperti ini? Dia mau mengelinap kemana? Jangan-jangan ia ingin keluar malam? Sudah kuduga, gadis itu memang tidak biasa. Ada sesuatu yang aneh padanya. Aku pernah mendengar rumor kalau dia diikuti kesialan. Tapi semoga saja itu tidak benar. Lagi pula aku juga tidak percaya akan hal seperti itu.

Aku meneruskan langkahku pergi ke ruang kesehatan mengambilkan  obat untuk Kai. Walaupun ruang kesehatan terkenal menyeramkan apalagi saat malam seperti ini aku harus berani, demi si Kkamjong. Ya, aku tidak ingin jadi satu-satunya yang menikmati gasnya sendirian. Lebih baik gas itu cepat diatasi. Bukan begitu?

Sampai di persimpangan aku tak sengaja menginjak sesuatu. Setelah kulihat tenyata hanya sampah. Menyebalkan sekali. Padahal di sekitar sini ada tempat sampah. Aku pungut sampah itu. Ternyata ada isinya. Aku tidak habis pikir, kenapa kertas ini harus dibungkus plastik bekas dan diikat dengan karet. Apa ada yang istimewa di dalamnya?

Aku buka plastik itu.

“ Apa ini, hanya dapat nilai 16? Bodoh sekali.”

Chanyeol POV End.

oOo

Akhirnya surat itu terbaca.

Oleh Park Chanyeol tentunya..

~TBC~

Recommended song:

♫ BGM: Tell me why – Toheart (Woohyun & Key)♫

Jika tidak suka lebih baik tidak usah didengarkan ini sifatnya opsional *uhuk* *tapimaksa* *uhuk* *kalonggakmaudengerbakalkenapukultongkatnyatao*

Sekedar curhat, saya menulis part ini saat sedang galau pemirsa. Lagi suka dengerin Tell me why sambil mojok di kamar, nggak lupa lampunya juga dimatiin. Sumpah rasanya nyesek banget. Apalagi liat adiknya Sungyeol ngejar-ngerjar tuh Moon Ga Young *uhuk* *salahfokus* *uhuk* *sukachanyeol* *uhuk* *tapinyeliriksungyeolsamaadiknya*

Seperti di part 1 kemarin, adalagi ungkapan ini ‘the beautiful stars which are far away in the night’s sky, they are really not that beautiful when you see it closely’, kalo nggak salah ini pernah ditayangin di Weekly Hot Hit. Jadi yang suka koleksi video EXO udah pada tahu pastinya. nyesek nggak tuh yang punya bias di Korea sana. Jleb banget sumpah.. *uhuk* *chanyeolsaranghaeyo* *uhuk* *liriklaydikitlah* *uhuk* *sayatidaksetia* *biarin* Intinya enyahlah sasaeng fans, jauhi EXO Oppadeul. Lihat mereka dari kejauhan saja seperti layaknya fans-fans biasa. Jangan ganggu kehidupan pribadi mereka sebesar apapun rasa penasaran kalian. Okay?

Yang terakhir saya mau berterima kasih pada readers yang udah komen, terima kasih telah mengapresiasi karya saya. Nggak ada author yang nggak bahagia kalau usahanya itu dihargai barang sedikit saja. Sekali lagi terima kasih kepada yang komen. Nggak tahu yang lain kenapa nggak pada komen, mungkin tangannya udah keriting duluan men-scroll FF yang panjang ini. Hehe..

Ingat! Nggak komen, dosa!

Advertisements

3 thoughts on “[FF] THE WAY TO YOU [2/?]

  1. oh, gpp, kupikir bkal distop ff-nya yg ini, hehe. Ok.. hwaiting kak, hehe… aku suka banget sama chanyeol dsini ><

  2. Kak author, ni kok gk dilnjutin ff-nya , hehe, pdahal critanya bgus lhoo.. aku nunggu2 lho yg stu ini 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s